Logo

081246558552

  • Selamat Datang di Website Resmi Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli
Senin Pahing
Logo

I Wayan Suardi

Kepala Desa Buahan

"Om Swatiastu" Selamat Datang di Website Resmi Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli


Foto Galeri

Ritual Nyelung

LIHAT LAINNYA

Video Galeri

LIHAT LAINNYA

Jajak Pendapat

Bagaimana Pendapat Anda tentang Website Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli?

    Res : 14 Responden

Baca Berita

Ritual Nyelung

Oleh : buahan | 31 Oktober 2015 | Dibaca : 839 Pengunjung

Merdeka.com - Sekitar 600 petani yang tergabung dalam empat organisasi pengairan tradisional atau "subak" di Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, menggelar ritual "Nyelung", Selasa (15/7).

Keempat subak yang terdiri atas Buahan, Susut, Selat, dan Tengipis yang menggelar ritual berskala besar itu mempersembahan segala hasil pertanian sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sanghyang Widhi) atas hasil panen mereka.

"Kegiatan ritual yang melibatkan seluruh petani dan anggota keluarga di empat subak itu digelar secara berkesinambungan setiap sepuluh tahun sekali," kata Sekretaris Subak Gede Buahan Nyoman Jejel di sela-sela kegiatan ritual tersebut, seperti diberitakan Antara Selasa (15/7).

Kegiatan ritual yang digelar di pura yang berlokasi di tengah persawahan yang berjarak sekitar 45 kilometer timur laut Kota Denpasar itu didasari atas tradisi karena zaman dulu tanaman pertanian di Subak Gede Buahan sering mengalami gagal panen akibat serangan hama dan penyakit.

Atas kejadian itu anggota subak berinisiatif untuk memohon keselamatan tanaman di pura Pucak Pausan, Buahan Kaja. Dalam memohon keselamatan tanaman pertanian tersebut, anggota subak berjanji akan menghaturkan hasil pertanian setiap sepuluh tahun sekali jika permohonan dikabulkan.

Setelah permohonan itu, tanaman pertanian di wilayah subak terhindar dari hama dan penyakit Karena permohonan sudah terkabulkan, maka tradisi "Nyelung" dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali, yakni setiap tahun masehi dengan angka satuan empat yang bertepatan dengan persembahyangan di Pura Pucak Pausan.

"Kami hanya melanjutkan tradisi yang sudah dilaksanakan leluhur secara turun-temurun dan hingga kini tetap kami lanjutkan," ujar Nyoman Jejel.

Pelaksanaan "Nyelung" dengan menghaturkan segala hasil pertanian (pala bungkah-pala gantung), satu ekor itik, ayam, dan babi. Selain itu juga dilengkapi dengan duplikat segala alat pertanian.

"Jelung" diarak dari Pura Puseh Buahan, Desa Buahan, sampai Pura Pucak Pausan, Desa Buahan Kajan, yang jaraknya sekitar 10 kilometer.

Arak-arakan ritual itu dilakukan keempat anggota subak secara estafet mengusung "jelung" sampai di Pura Pucak Pausan. Pertama anggota Subak Buahan dan Susut mengusung sampai di Banjar Selat Dari Banjar Selat digantikan Subak Selat mengusung sampai di Banjar Tengipis.

Dari subak Tenggipis selanjutnya digantikan Subak Tengipis mengusung sampai Pura Pucak Pausan. "Jelung" sebelumnya disucikan dengan diupakarai dengan menghaturkan "dapetan".

Selanjutnya "Jelung" mengelilingi Pura Pucak sebanyak tiga kali. Diusung krama subak bergantian. Usai mengelilingi Pura Pucak, diusung ke utama mandala pura (areal paling suci).


Oleh : buahan | 31 Oktober 2015 | Dibaca : 839 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :