Artikel

Perikanan

07 Februari 2023 13:30:46  Administrator  580 Kali Dibaca 

Masyarakat Desa Buahan khususnya yang hidup daerah pinggir Danau Batur kebanyakan membudidayakan ikan melalui KJA ( Keramba Jaring Apung ) dengan jenis Ikan Mujair, Ikan Nila. Pembudidayaan ikan juga ada melalui tekhnologi Bioflok.

  1. KJA ( Keramba Jaring Apung )

Keramba jaring apung merupakan sarana pemeliharaan ikan yang menggunakan jaring sebagai bagian utamanya. Dengan menggunakan jaring apung, pememeliharaan ikan bisa dilakukan di laut atau pun media air tawar seperti danau atau waduk, yang memiliki kedalaman lebih dibandingkan sungai atau tambak.

Alasan sederhana pembudidaya memilih keramba jaring apung yaitu sirkulasi air yang tetap terjaga karena langsung dari laut, danau, atau waduk sebagai media pemeliharaan. Kegiatan membersihkan jaring tidak terlalu sulit, sampai urusan memanen ikan yang sangat praktis.

Berbeda dengan cara konvensional atau di kolam tanah liat, pembudidaya harus terus menjaga kandungan oksigen agar tetap tersedia pada air. Selain itu, kolam tanah liat cukup rentan dengan berbagai macam serangan penyakit. Pemanenan ikan pun dilakukan secara manual, yaitu menggiring ikan dengan alat bambu yang dilakukan minimal oleh dua orang sehingga lebih sulit dibandingkan memanen ikan di KJA.

Keramba jaring apung yang ada saat ini kebanyakan berupa jaring yang diikatkan pada pelampung yang terbuat dari drum atau gentong bekas. Para petani ikan menebarkan benih ikan pada awal masa pemeliharaan hingga saat panen tiba.

Komponen keramba jaring apung sendiri terdiri dari kerangka, pelampung, kantong jaring, bangunan pendukung, pemberat jaring, dan jangkar. Kerangka merupakan pondasi, tempat pemasangan kantong jaring dan sarana pendukung budidaya. Kerangka dapat dibuat dari bambu, balok kayu, besi (pipa atau siku).

Kantong jaring merupakan komponen penting dalam satu rangkaian KJA. Ukuran mata jaring yang digunakan disesuaikan dengan ukuran ikan yang dipelihara. Jenis bahan yang digunakan untuk pembuatan kantong jaring, yakni hapa dan waring, masing-masing memiliki ukuran mata berbeda.

Hapa adalah anyaman senar plastik monofilamen kecil tanpa simpul dengan ukuran mata 2 cm. Sementara benang waring berukuran lebih besar dengan ukuran mata 5 cm. Kantong hapa dan waring dibuat dengan cara dijahit dan keduanya digunakan untuk pendederan. Bahkan, hapa juga bisa digunakan untuk pembenihan.

Selain kerangka dan kantong jaring, ada pelampung. Pelampung yang digunakan pada KJA kebanyakan adalah drum-drum plastik. Pelampung berfungsi sebagai tempat peletakan kerangka dan juga ponton penyeberangan. Hal yang harus diperhatian, fasilitas pendukung seperti rumah penjaga, gudang, serta ponton penyeberangan.

Pemberat jaring dimaksudkan untuk merentangkan jaring ke arah vertikal dan horizontal. Pemberat jaring biasanya memeiliki berat kurang-lebih 5 kg dan digantung di bagian luar jaring, di setiap pojok dan tengah dengan jarak sekitar 1,5 meter.

Adapun jangkar yang dilengkapi dengan pemberat sekitar 2 x 50 kg dipasang sebanyak kebutuhan untuk menjaga posisi jaring apung di perairan. Jangkar dan pemberat dihubungkan dengan tali plastik berdiameter sekitar 2 cm dengan panjang berkisar 1,5 meter kedalaman air. Jangkar dilabuh agak miring pada setiap pojok.

Masyarakat Desa Buahan menggunakan KJA jenis kotak :

Keramba jenis ini banyak digunakan di media air tawar, misalnya danau atau waduk. Bentuknya yang berupa kotak berpetak-petak memungkinkan pembudidaya memelihara berbagai jenis ikan dalam satu blok keramba.

Jenis ikan yang dibudidaya dalam keramba ini seperti ikan nila, ikan mas, ikan lele, ikan bandeng, dan jenis lainnya. Tidak menutup kemungkinan penggunaan keramba jenis ini di laut.

Budidaya ikan keramba jaring apung merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan yang efisien dan efektif. Model sistem budidaya ini telah terbukti lebih efisien, baik secara teknis maupun ekonomis.

Dengan luasan media yang sempit, pembudidaya bisa melipat gandakan hasil panen ikan tanpa harus menambah biaya yang besar. Pola yang di pakai adalah mengintensifkan pola budidaya ikan tersebut. Meskipun berbiaya tinggi, keuntungan yang diperoleh pun lebih tinggi.

  1. Bioflok

Bioflok adalah salah satu teknologi budidaya ikan, yakni suatu teknik budidaya melalui rekayasa lingkungan yang mengandalkan pasokan oksigen dan pemanfaat mikroorganisme yang secara langsung dapat meningkatkan nilai kecernaan pakan.

Prinsip dasar bioflok adalah mengubah senyawa organik dan anorganik yang terdiri dari kabon, oksigen, hidrogen, dan nitrogen menjadi massa sludge berbentuk bioflok. Perubahan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan sebagai bioflok.

Teknik ini populer di kalangan peternak lele dan nilai karena mampu menggenjot produktivitas panen yang lebih tinggi. Selain itu, metode bioflok juga menekan penggunaan lahan menjadi tidak terlalu luas dan hemat air.

Oleh sebab itu, bioflok menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat serta menjadi cara ekonomis bagi para pebisnis bidang perikanan.

Produktivitas Naik

Penerapan sistem bioflok melalui rekayasa lingkungan dengan mengandalkan suplai oksigen dan pemanfaatan mikroorganisme mampu menjadikan hasil panen melonjak tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Jika kita perbandingkan dengan budidaya sistem konvensional yang menerapkan metode padat tebar 100 ekor/m3, dimana memerlukan waktu 80 hingga 110 hari untuk panen. Maka untuk sistem bioflok dengan padat tebar 500-1000 ekor/m3 hanya memerlukan waktu panen 75 hingga 90 hari saja.

Disamping itu, inovasi teknologi budidaya ikan ini juga membuat penggunaan pakan lebih efisien. Misalnya pada metode budidaya konvensional nilai Feed Convertion Ratio (FCR) rata-rata sekitar 1,5 maka dengan teknologi bioflok Feed Convertion Ratio (FCR) dapat mencapai 0,8 hingga 1,0.

Artinya, untuk menghasilkan 1 kg daging ikan pada sistem konvensional memerlukan sekitar 1,5 kg pakan. Sedangkan dengan metode bioflok, hanya memerlukan 9,8 hingga 1,0 kg pakan ikan.

Di berbagai daerah, bioflok terbukti efisien dibanding sistem konvensional, bahkan meningkatkan produktivitas lebih dari 3 kali lipat. Contohnya pada kolam dengan rata-rata padat tebar 1.000 ekor/m3 dengan ukuran diameter 3 meter, maka dapat ditebar sekitar 3.000 ekor benih lele.

Dari jumlah tersebut, dapat menghasilkan lele konsumsi mencapai 300 kg hingga 500 kg per siklus panen (75-90 hari). 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Peta Wilayah Desa

 Agenda

Belum ada agenda

 Sinergi Program

Prodeskel Pajak Online

 Statistik

 Komentar

 Media Sosial

 Peta Lokasi Kantor


Kantor Desa
Alamat : Jl. Raya Buahan, Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli
Desa : Buahan
Kecamatan : Kintamani
Kabupaten : Bangli
Kodepos : 80652
Telepon : 087881602723
Email : pemdesbuahankin@gmail.com

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:172
    Kemarin:400
    Total Pengunjung:14.017
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:44.200.27.215
    Browser:Tidak ditemukan